Bagian 1: Ketika Langit Menjadi Ruang Belajar Saya
Oleh Ira Novriana
Memorial Director | Al Azhar Memorial Garden
Ada sebuah kalimat yang selalu saya yakini hingga hari ini.
Hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana, tetapi selalu membawa kita menuju tempat di mana kita seharusnya berada.
Kalau dua puluh tahun yang lalu seseorang berkata bahwa suatu hari saya akan mendedikasikan diri untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya perencanaan pemakaman sesuai syariat Islam, mungkin saya hanya akan tersenyum. Rasanya sulit dipercaya.
Saat itu, dunia saya adalah langit.
Saya menghabiskan hari-hari dengan mengenakan seragam pramugari, menyambut penumpang dengan senyum, memastikan setiap perjalanan berlangsung aman dan nyaman. Saya tidak pernah membayangkan bahwa pelajaran-pelajaran yang saya dapatkan di balik ribuan meter di atas permukaan bumi ternyata sedang mempersiapkan saya untuk perjalanan hidup yang jauh lebih bermakna.
Kini, ketika saya menoleh ke belakang, saya menyadari bahwa tidak ada satu pun pengalaman yang sia-sia.
Semuanya saling terhubung.
Sebuah Mimpi untuk Melayani
Sejak muda, saya selalu tertarik dengan dunia pelayanan.
Bagi sebagian orang, menjadi pramugari mungkin identik dengan kesempatan bepergian ke berbagai kota atau bertemu banyak orang. Semua itu memang menjadi daya tarik bagi saya. Saya ingin melihat dunia, memperluas wawasan, dan mengumpulkan pengalaman yang kelak menjadi bekal kehidupan.
Namun, ada alasan lain yang lebih dalam.
Saya menyukai pekerjaan yang membuat saya bisa berinteraksi dengan banyak orang. Saya percaya bahwa sebuah senyuman, sapaan yang tulus, atau bantuan kecil yang diberikan pada saat yang tepat dapat meninggalkan kesan yang begitu besar.
Ketika akhirnya bergabung dengan Bouraq Airlines, saya merasa sedang menjalani impian itu.
Selama kurang lebih empat tahun, saya belajar bahwa pelayanan bukan sekadar menjalankan prosedur. Pelayanan adalah tentang menghadirkan rasa tenang bagi orang lain.
Di dalam kabin pesawat, setiap penumpang datang dengan cerita yang berbeda. Ada yang bepergian untuk liburan bersama keluarga, ada yang mengejar impian, ada yang pulang karena rindu kampung halaman, bahkan ada yang terbang untuk menghadiri pemakaman orang yang mereka cintai.
Saya belajar bahwa setiap orang membawa beban hidup yang tidak selalu terlihat.
Karena itu, keramahan bukanlah formalitas. Keramahan adalah bentuk penghormatan kepada setiap manusia yang kita temui.
Pelajaran yang Tidak Pernah Saya Lupakan
Setelah perjalanan bersama Bouraq Airlines berakhir, saya melanjutkan karier sebagai pramugari di Sriwijaya Air selama kurang lebih lima tahun.
Sembilan tahun berada di dunia penerbangan memberi saya lebih dari sekadar pengalaman kerja.
Saya belajar disiplin.
Saya belajar bekerja di bawah tekanan.
Saya belajar mengambil keputusan dengan cepat.
Saya belajar menjaga ketenangan dalam situasi yang tidak selalu mudah.
Dan yang paling penting, saya belajar bahwa kepercayaan adalah sesuatu yang harus dibangun setiap hari.
Penumpang mungkin hanya bertemu kami selama beberapa jam. Namun, dalam waktu yang singkat itu, mereka mempercayakan keselamatan dan kenyamanan perjalanan kepada seluruh kru pesawat.
Kepercayaan seperti itulah yang menjadi fondasi pelayanan.
Pelajaran itu terus saya bawa hingga hari ini.
Ketika Hidup Memasuki Babak Baru
Setelah menikah, kehidupan saya memasuki fase yang berbeda.
Prioritas mulai berubah.
Saya tidak lagi memikirkan hanya tentang diri sendiri atau pencapaian karier. Saya mulai belajar tentang arti membangun keluarga, menyusun masa depan bersama, dan mempersiapkan kehidupan yang lebih baik.
Saya percaya bahwa setiap perempuan memiliki perjalanan yang unik.
Ada yang memilih terus berkarier di bidang yang sama.
Ada yang memulai usaha.
Ada yang fokus membesarkan keluarga.
Tidak ada pilihan yang lebih baik atau lebih buruk.
Yang terpenting adalah menjalani setiap fase dengan penuh rasa syukur dan memberikan yang terbaik.
Saya pun memilih untuk membuka lembaran baru.
Bukan karena saya tidak mencintai dunia penerbangan, tetapi karena saya percaya bahwa setiap musim dalam kehidupan memiliki panggilannya masing-masing.
Dari Melayani Perjalanan Menjadi Membangun Kepercayaan
Setelah meninggalkan dunia penerbangan, saya bergabung dengan Trimegah Asset Management sebagai Relationship Manager.
Sekilas, dunia keuangan tampak sangat berbeda dengan dunia penerbangan.
Namun semakin saya menjalaninya, saya menyadari bahwa keduanya memiliki kesamaan yang sangat penting.
Keduanya dibangun di atas kepercayaan.
Sebagai Relationship Manager, tugas saya bukan hanya menawarkan produk. Saya harus memahami kebutuhan setiap nasabah, mendengarkan tujuan mereka, serta membantu mereka menyusun rencana keuangan yang sesuai.
Saya belajar bahwa setiap keputusan keuangan adalah keputusan tentang masa depan.
Di balik setiap investasi, ada impian yang ingin diwujudkan.
Ada pendidikan anak.
Ada rumah yang ingin dimiliki.
Ada masa pensiun yang ingin dipersiapkan.
Ada rasa aman yang ingin dijaga.
Di sinilah saya semakin memahami bahwa pekerjaan terbaik bukanlah pekerjaan yang sekadar menghasilkan transaksi, melainkan pekerjaan yang membantu orang lain mengambil keputusan penting dalam hidup mereka.
Pelayanan kembali menjadi inti dari pekerjaan saya.
Hanya bentuknya yang berbeda.
Semua Pengalaman Memiliki Tujuan
Jika hari ini saya diminta menceritakan perjalanan hidup saya dalam satu kalimat, mungkin saya akan mengatakan:
“Allah tidak pernah membawa saya berputar tanpa tujuan.”
Dunia penerbangan mengajarkan saya melayani dengan sepenuh hati.
Dunia keuangan mengajarkan saya pentingnya perencanaan dan membangun kepercayaan.
Saat itu saya belum mengetahui bahwa semua pengalaman tersebut sedang dipersiapkan untuk sebuah peran yang sama sekali tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.
Sebuah peran yang bukan hanya tentang pekerjaan.
Tetapi tentang menemani keluarga pada salah satu momen paling penting dalam kehidupan mereka.
Saya belum menyadarinya saat itu.
Namun perlahan, Allah sedang membuka jalan menuju sebuah panggilan hidup yang baru.
Dan dari sanalah perjalanan saya menuju Al Azhar Memorial Garden dimulai.
Bersambung ke Bagian 2: “Ketika Perencanaan Menjadi Bentuk Kepedulian”
Tentang Penulis
Ira Novriana adalah Memorial Director Al Azhar Memorial Garden yang memiliki pengalaman di dunia penerbangan, industri keuangan, dan edukasi perencanaan syariah. Melalui tulisan dan pendampingan, Ira berbagi pengalaman untuk membantu keluarga Indonesia mempersiapkan masa depan dengan lebih tenang serta membangun tim Memorial Partner yang bertumbuh bersama dalam profesi yang penuh makna.